Minggu, 12 Juni 2011

SELAMATAN TUJUH BULANAN UNTUK KEHAMILAN PERTAMA MENURUT PANDANGAN ISLAM

SELAMATAN TUJUH BULANAN UNTUK KEHAMILAN PERTAMA MENURUT PANDANGAN ISLAM
oleh: Sugiyanta
Umat Islam Indonesia di Jawa maupun di pulau selainnya, saat menyambut putera pertama ternyata masih melakukan ritual-ritual yang tidak ada perintahnya dari nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Acara itu adalah neloni (selamatan ketika kehamilan berusia tiga bulan), mitoni (saat berusia tujuh bulan), dan juga tingkeban.
Sebagian melakukannya ketiga-tiganya, ada pula yang melakukan acara mitoni dan tingkeban, ada pula yang melakukan tingkeban saja karena mitoni dianggap sama dengan tingkeban. Sebagian orang Jawa, (dan juga selainnya termasuk Sunda, Minang, Dayak dan lainnya) mempercayai bahwa mitoni atau selamatan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap usia 7 bulan atau lebih.
Mitoni dan tingkeban dilaksanakan saat kehamilan berusia tidak boleh kurang dari 7 bulan. Karena tidak ada neptu atau weton (hari masehi + hari Jawa) yang dijadikan patokan, maka hari selasa atau sabtu yang digunakan. Tujuan mitoni atau tingkeban agar supaya ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu).

Dari Agama Hindu

Ternyata telonan, mitoni dan tingkepan yang sering dijumpai di tengah-tengah masyarakat adalah tradisi yang berasal dari agama Hindu yaitu dalam Kitab Hindu Upadesa halaman 6 disebutkan bahwa telonan, mitoni, dan tingkeban dilakukan untuk memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim (kandungan). Acara ini sering juga dikenal dengan Garba Wedana (garba berarti perut, wedana berarti sedang mengandung).

Maksud dan Tujuannya

Telonan disebut juga pengambean, yaitu upacara pemanggilan atman (urip) atau ruh kehidupan. Mitoni untuk melakukan ritual sambutan, yaitu penyambutan atau peneguhan letak atman (urip) atau ruh kehidupan si bayi. Dan yang terbesar tingkeban berupa janganan, yaitu upacara suguhan terhadap "Empat Saudara" (sedulur papt) yang menyertai kelahiran sang bayi, yaitu : darah, air, barah, dan ari-ari yang oleh orang Jawa disebut kakang kawah adi ari-ari.
Tingkeban dilakukan guna memanggil semua kekuatan alam yang tidak kelihatan tapi mempunyai hubungan langsung pada kehidupan sang bayi dan juga pada panggilan kepada Empat Saudara yang keluar bersama saat bayi dilahirkan. Bayi dan kakang kawah ari-ari bersama-sama diupacarai, diberi pensucian dan suguhan agar sang bayi mendapat keselamatan dan selalu dijaga oleh unsur kekuatan alam.

Ari-ari yang keluar bersama bayi dibersihkan dengan air dan dimasukkan ke dalam tempurung kelapa, atau kendil atau guci. Kendil kemudian ditanam di pekarangan, di kanan pintu apabila bayinya laki-laki, di kiri pintu apabila bayinya perempuan. Kendil yang berisi ari-ari ditimbun dengan baik, dan pada malam harinya diberi lampu, selama tiga bulan (Kitab Upadesa, tentang ajaran-ajaran Agama Hindu, oleh : Tjok Rai Sudharta, MA. dan Drs. Ida Bagus Oka Punia Atmaja, cetakan kedua 2007).

Umat Islam Sekarang pun Sebagian Besar Masih Melaksanakannya

Sekarang masyarakat Islam masih banyak orang yang melaksanakan tingkeban atau mitoni, dengan tatacara yang sedikit berbeda (atau dibedakan) dengan tradisi Jawa. Keluarga yang memiliki ibu yang hamil tujuh bulan mengajak tetangga-tetangganya guna dimintai pertolongan untuk membacakan beberapa surat tertentu dari Alquran, seperti Surat Yusuf, Surat Maryam, Surat Yasin, dll. Mereka membaca bersama-sama dengan bagian yang berbeda-beda, surat yang panjang biasanya dibagi dua atau tiga orang, sehingga dalam waktu kurang lebih setengah jam bacaan Alquran sudah selesai dan diakhiri dengan pembacaan doa oleh imamnya.
Demikian juga ketika anak dilahirkan mereka melakukan amalan yang sama dengan menanam ari-ari di kanan atau kiri pintu utama rumah dan meneranginya selama tiga bulan.
Selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan atau 7 bulanan (Nujuh Bulanan), tidak ada dalam ajaran Islam. Itu termasuk perkara baru dalam agama. Dan semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan". (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).
Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan kemusyrikan. Karena sesungguhnya keselamatan dan bencana itu hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Allah berfirman:

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا واللهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَليِمُ
'Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa'at?". Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'. (QS Al Maidah:76).

Mitoni Menurut Nahdhatul Ulama

Dalam KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-5 Di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M. Lihat halaman : 58 disebutkan pernyataan dan jawaban:
Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya melempar kendi yang penuh air hingga pecah pada waktu orang-orang yang menghadiri UPACARA PERINGATAN BULAN KE TUJUH dari umur kandungan pulang dengan membaca shalawat bersama-sama, dan dengan harapan supaya mudah kelahiran anak kelak. Apakah hal tersebut hukumnya haram karena termasuk membuang-buang uang (tabzir)?
Jawab :Ya, perbuatan tersebut hukumnya H A R A M karena termasuk tabdzir.

Dalam KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-7 Di Bandung, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1351 H / 9 Agustus 1932 M. Lihat halaman 71: Menanam ari-ari (masyimah/tembuni) hukumnya sunnah. Adapun menyalakan lilin (lampu) dan menaburkan bunga-bunga di atasnya itu hukumnya H A R A M, karena membuang-buang harta (tabzir) yang tidak ada manfa'atnya.

6 komentar:

  1. Alhamdulillah yaa Rabb ada umat-Mu yang selalu mengingatkan bahaya kesesatan. wass. Dwi Yudo , Balikpapan

    BalasHapus
  2. Menurut pandangan islam, tahapan-tahapan proses janin di dalam rahim melalui lima tahapan, mulai bentuk (sperma) dalam keterangan al-Qur’an disebut dengan ‘’nutfah’’ 40 hari. Prosesing yang kedua dalam bentuk ‘’ alaqoh’’ darah yang mengumpal di dalam rahim (40 hari). Proses berikut menjadi ‘’mudghoh’’ darah yang mengumpal dan telah menjadi daging (calon janin).(Lihat hadis Nabi yang menceritakan tentang proses pembentukan manusia dan Q.S al-Mu’minun 12-14, Allah SWT menyebutkan proses pembuahan secara berurutan.)

    Berikutnya adalah pembentukan tulang dan organ tubuh lainya. Berikutnya adalah proses kesempurnaan. Pada usia seratus dua puluh hari, 120 hari, Allah memerintahkan malaikat untuk memberinya ruh (nyawa). Pada usia itulah, Allah SWT juga memerintahkan malaikat untuk mencatat rejekinya, ajalnya (kematian), serta amal perbuatanya, serta keadaan didunia kelak, apak termasuk orang yang bejo (beruntung) atau sebaliknya.[3]

    Di dunia islam, seringkali al-Qur’an dan dibacakan secara berjama’ah di dalam sebuah acara telonan (120 hari atau biasanya dilaksanakan hari2 sebelumnya) dengan tujuan berdoa bersama agar malaikat menetapkan kebaikan takdir pada janin tersebut,Tidak sedikit dari para ulama’ dan ustad, ketika istrinya sedang hamil, mereka memperbanyak membaca al-Qur’an, sholawat, dzikir dan kalimah-kalimah toyyibah lainnya. Mereka yakin, bahwa penggaruh dan kekuatan al-Qur’an itu bisa membentuk kejiwaan janin dan kelak menjadi anak yang sholih.

    Bukan hanya orang islam, dan barat melalui pendekatan tehnologi kedokteran. China juga mempercayai, bahwa wanita yang sedang hamil, janin di dalam rahimnya bisa dipenggaruhi oleh lingkunganya. Di anjurkan, kedua orangtuanya senantiasa rukun, mesra, harmonis, ketika sang Ibu sedang mengandung. Jika suami istri sering gaduh (betengkar), melakukan perbuatan maksiat, maka otak anak akan merekam setiap apa yang telah dilakukan kedua orangtuanya. Apalagi, makanan dan minuman yang dikosumsi merupakan barang-barang haram.

    Islam sangat sempurna, memberikan pedoman serta kurikulm khusus bagi wanita yang sedang hamil. Al-Qur’an adalah sumber utama, yang mempunyai nilai sacral dan kekuatan maha dasyat terhadap orang dewasa, tua, muda bahkan masih dalam keadaan janin. Budaya Jawa, mengemas dengan istilah ‘’telonan’’. Walaupun masih banyak orang yang mempersoalkan, akan tetapi dunia tehnolgi modern membuktikan dan membenarkanya.

    BalasHapus
  3. Untuk masalah hadits kullu bid'atin dholalatun.. lihat ini:
    http://mochrifaielgamary170782.blogspot.com/2012/12/achmad-khulaefi-kesalahan-kesa-lahan.html

    BalasHapus
  4. itu keputusan nu bukan tingkebannya mas, tapi buang2 harta. mis: kendi dan lilin. jadi gak pas lah mas untuk menjustifikasi tingkeban. gimana si mas niy? jgn membingungkan umat dong.....

    BalasHapus
  5. yang itu2 saja terus di perdebatkan pekerjaan berupa ibadah yg serupa dengan yg lain tdk selalu di katakan meniru [ tasyabbuh ] tapi ada juga kebetulan [ ittifaaqiyyah ] seperti 7 bulanan tau engga yg sebenarnya di lakukan di jawa barat dan tujuannya ? coba teliti dulu baru menghukumi kalau memang 7 bulanan misalnya tdk di perbolehkan/bid'ah atau karena serupa dengan teradisi hindu bagai mana dengan pernikahan memakai jas kan itu sama dengan pernikahan yahudi dan nasroni coba perhatikan di kitab2 mereka dan ketab kami..... waktu nabi dan cucu2nya menikah tdk ada yg meriwayatkan Rosulullooh , sayyidina Hasan dan sayyidina Husen pakai jas ..... kenapa tdk di permasalahkan ????? karna mereka suka make yah......? dan bagai mana ibadah haji pakai kapal - mobil dsb ?...makanya jangan suka mengorek-ngorek urusan orang lain luruskan dulu urusan sendiri .... ok !!???

    BalasHapus
  6. LAGI ISO BISMILLAH WAE,, MUNI HARAM,,,,, KAYAK NGERTIO2 WAE ACARA MITONI,,,,, KALO CUMA TAU KULITNYA SAJA,,,, NGAWURRRRR POLLLL MUHAMMADIYAH,,,,

    BalasHapus