Kamis, 09 Juni 2011

Idul Fithri pada Hari Jumat


Idul Fithri pada Hari Jumat
Oleh Sugiyanta, S.Ag, M.Pd

سنن ابن ماجه - (ج 4 / ص 198)حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ رَجُلًا سَأَلَ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ هَلْ شَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ
Saya mendengar seseorang bertanya Zaid bin Arqam : Apakah anda menyaksikan bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dua hari Ied dalam satu hari. Jawabnya: Betul. Ia bertanya: Lalu bagaimana beliau berbuat saat itu? Beliau shalat Ied kemudian memberikan keringanan pada shalat Jumat. Kemudian beliau bersabda: Siapa yang ingin shalat (jumat) maka shalatlah. (HR Ibn Majah, dia adalah Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Yazid ibn Majah ar-Rabi’y al-Qazwiny, wafat: Ramadhan 273 H)

Pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam
1.    Pernah terjadi shalat Ied pada hari Jumat
2.    Rasulullah memberikan rukhshah untuk tidak mengerjakan shalat Jumat bila telah mengerjakan shalat Ied
3.    Bagi yang ingin shalat Jumat, maka hal itupun dibenarkan

سنن ابن ماجه - (ج 4 / ص 199) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنِي مُغِيرَةُ الضَّبِّيُّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Sungguh telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari Raya maka barangsiapa menghendaki, (shalat Id) telah mencukupi shalat Jumat dan kami akan mengerjakan shalat Jumat Insyaallah.

4.    Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tetap mengerjakan shalat Jumat

سنن أبي داود - (ج 3 / ص 271)حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَرِيفٍ الْبَجَلِيُّ حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ: صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ  -سنن النسائي - (ج 6 / ص 51)
Ibn az-Zubair (dia adalah Abu ‘Abdillah ‘Urwah ibn az-Zubair ibn al-Awwam ibn Khuwailid ibn Asad ibn Abdul ‘Uzza ibn al-Qushai al-Asady al-Quraisyy, seorang tabiin, lahir 22 H dan wafat 93 H - pen) shalat bersama kami pada hari ‘Ied pada hari Jumat pada pagi hari. Kemudian kami berangkat menuju shalat Jumat, namun beliau tidak keluar. Maka kami shalat sendiri-sendiri. Saat itu Ibn Abbas sedang di Thaif. Ketika beliau pulang, kami ceritakan hal itu. Maka Ibn Abbas (dia adalah Abul ‘Abbas ibn ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, seorang shahabat Nabi, wafat 68 H - penulis) berkata: Ia telah mengerjakan sunnah (HR Abu Dawud, dia adalah Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats ibn Syidad ibn ‘Amar ibn ‘Amir as-Sijistany, wafat: 202 H, no. 1071)

Kesimpulan: Apabila Ied (hari raya) jatuh pada Jumat, Rasulullah memberikan keringanan untuk meninggalkan shalat Jumat. Tetapi bagi pemimpin negara juga Takmir Masjid, Imam Jumat diseyogyakan tetap menyelenggarakan shalat Jumat. Dan meninggalkan shalat Jumat pada hari itu tidak bertentangan dengan sunnah nabi (kalau telah mengerjakan shalat Ied)

Shalat Dzuhur atau Tidak?

Berdasarkan hadist riwayat Abu Dawud no. 1071 di atas kita dapat meniru perbuatan para shahabat radliallahu ‘anhum yaitu mengerjakan shalat dua rakaat sendiri-sendiri. Tetapi bagi yang meninggalkanpun tidak salah karena ada hadist berikut:
سنن أبي داود - (ج 3 / ص 272) حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ: قَالَ عَطَاءٌ جْتَمَعَ يَوْمُ جُمُعَةٍ وَيَوْمُ فِطْرٍ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ
Berkata ‘Atha’ (dia adalah ‘Atha’ ibn Rabbah seorang tabiin di Mekkah – pen): Telah berkumpul hari Jumat dan hari Fithri pada masa Ibn Zubair. Maka ia berkata: Dua hari raya bertemu pada satu hari maka … maka ia mengerjakan shalat keduanya dua rakaat pada pagi hari. Tidak menambah atas keduanya sampai shalat Ashar.
صحيح وضعيف سنن أبي داود - (ج 3 / ص 72) حدثنا يحيى بن خلف حدثنا أبو عاصم عن ابن جريج قال قال عطاء اجتمع يوم جمعة ويوم فطر على عهد ابن الزبير فقال عيدان اجتمعا في يوم واحد فجمعهما جميعا فصلاهما ركعتين بكرة لم يزد عليهما حتى صلى العصر.تحقيق الألباني :صحيح
Imam asy-Syaukani (Dia adalah Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Abdillah asy-Syaukani ash-Shan’ani, wafat: 1255 H) dalam Nailaul Authar (III/336) berkata bahwa pada dzohirnya (secara tersurat) Ibn Zubair tidak mengerjakan shalat Dzuhur. Sebab, bila shalat Jumat gugur karena telah mengerjakan shalat Ied, maka tidak wajib juga bagi orang yang telah gugur kewajiban mengerjakan shalat Jumat untuk mengerjakan shalat Dzuhur. Pada hal shalat yang diwajibkan pada hari Jumat adalah shalat Jumat bukan shalat dzuhur. Mewajibkan shalat Dzuhur kepada orang yang meninggalkan shalat Jumat baik karena udzur (halangan: misalnya sakit, bepergian, hilang akal) demikian juga yang bukan karena udzur memerlukan dalil. Dan tidak ada dalil (tentang wajibnya shalat Dzuhur karena telah mengerjakan shalat Ied) yang bisa dipegang dalam masalah ini.
Maraji’:
1.    Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Shahih Fiqih Sunnah (Shahih Fiqh as-Sunnah wa adillatuhu wa taudhih madzahib al-a’immah) Jilid ke-2, Pustaka at-Tazkia, Jakarta, 2006
2.     Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah Hafidzullah, Sudah Benarkah Sholat Kita, Majelis Ilmu, Tanpa Kota 2009/14
3.     Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh, Terjemah Tamamul Minnah Koreksi & Komentar secara Ilmiah terhadap Kitab Fiqhus Sunnah Karya Sayyid Sabiq (Tamamul Minnah fit-Ta’liq ‘ala Fiqhus Sunnah), Maktabah Salafi Press, Cet ke-2, Tegal 2002
4.     Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Shalat Lengkap, Pustaka Rizki Putra, 2002


Tidak ada komentar:

Posting Komentar