Senin, 20 Juni 2011

Derajat Hadist Doa akan dan sesudah Makan

Derajat Hadist Doa akan dan sesudah Makan
Oleh: Sugiyanta, S.Ag, M.Pd

Derajat Hadist Doa Akan Makan
Allahumma bariklana, fima razaktana waqina ‘adzabannar. Doa ini begitu populer dan terkenal bagi umat Islam ini. Kita tidak heran karena orang tua, kakak, Bapak/Ibu Guru Agama atau para Ustadz/Ustadzah kita mengajarkannya kepada para anak, adik, siswa dan santriya sejak masa belajar makan sendiri, PAUD, TPA/TKA,TK/RA, SD/MI

الدعاء للطبراني - (ج 2 / ص 449) حدثنا الحسين بن إسحاق التستري ، ومحمد بن أبي زرعة الدمشقي ، قالا : ثنا هشام بن عمار ، ثنا محمد بن عيسى بن سميع ، ثنا محمد بن أبي الزعيزعة ، حدثني عمرو بن شعيب ، عن أبيه ، عن عبد الله بن عمرو ، رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول في الطعام إذا قرب إليه : « اللهم بارك لنا فيما رزقتنا ، وقنا عذاب النار ، بسم الله »
Mengabarkan kepada kami al-Husain al-Tastari, dan Muhammad bin Abi Zar’ah ad-Dimasqi, katanya: Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Isa bin Sami’, menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Zu’aizi’ah dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari Abdullah bin Amru radliallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, bahwa beliau pernah berkata ketika makanan dihidangkan kepadanya: Allahumma bariklana, fima razaktana waqina ‘adzabannar. Bismillah.

Takhrij Hadist
Hadist ini dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani dalam ad-Du’a, Ibn Sunni dalam ‘Amalul Yaum wa Lailah {no. 459), dan juga Ibn ‘Adi dalam al-Kamil (6/2212)

Kelemahan Hadist
1.         Imam Dzahabi menyampaikan perkataan Abu Hatim dalam Mizanul I’tidal (6/149-150) bahwa Abu atim berkata: Munkarul hadist jiddan (hadist yang munkar sekali) demikian juga dikatakan Imam la-Bukhari.
2.    Al-hafidz Ibn Hajar al-Asqalani berkata: hadist ini gharib, dikeluarkan Ibn Sunni, dan dalam sanadnya terdapat Ibn Abi Zu’azi’ah, dia lemah sekali.
3.         Ibn Adi (salah satu yang meriwayatkan hadist ini) mengingkari Ibn Abi Zu’azi’ah
4.      Ibn Hibban dalam ad-Dluafa (kitab yang berisi hadist-hadist dlaih/lemah) memasukkannya dalam hadist dlaif/lemah

Hadist yang shahih
صحيح البخاري - (ج 16 / ص 470) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ قَالَ الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنِي أَنَّهُ سَمِعَ وَهْبَ بْنَ كَيْسَانَ أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ أَبِي سَلَمَةَ يَقُولُ كُنْتُ غُلَامًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ
Menceritakan kepada kami ‘Ali bin Abdillah, mengabarkan kepada kami Sufyan, katanya: al-Walid bin Katsir mengabarkan kepadaku bahwa dia mendengar Wahab bin Kaisan, bahwa dia Umar bin bin Abi Salamah berkata: Aku pernah berada di bawah penjagaan Rasulullah s.a.w. Ketika waktu makan, tanganku terhulur hendak menjangkau talam, lalu Rasulullah s.a.w bersabda kepadaku: Wahai anak muda! Sebutlah Nama Allah, makanlah dengan tangan kanan dan mulakan dengan makanan yang terdekat denganmu (HR al-Bukhari (16/470 = 5376), Imam Muslim no. 2022)

Berdasarkan hadist di atas, cukuplah kita membaca bismillah (tanpa arrahmanirrahim) ketika kita akan makan.

Derajat Hadist Doa Sesudah Makan
سنن أبي داود - (ج 10 / ص 333) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الْوَاسِطِيِّ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أَبِيهِ أَوْ غَيْرِهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ طَعَامِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ
Mengabarkan kepada kami, Muhammad bin al-‘Ala’i, Waki’ mengabarkan dari Sufyan dari Abi Hasyim al-Wasithi dari ‘Ismail bin Rabah dari Ayahnya atau selainnya dari Abi Sa’id al-Khudri bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dulu bila selesai dari makanannya, beliau
berkata: ‘alhamdulillahiladzi ath’amana wa saqana wa ja’alana muslimin.

Takhrij Hadist
Hadist di atas diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan (10/333), Imam ath-Thirmidzi no. 3457, dan Ibn Majah no. 3283)

Kedudukan Hadist:
1.         Sanad Hadist ini mempunyai kelemahan pada Ismail bin Rabah
2.         Berkenaan dengan Isma’il bin Rabah, Imam adz-Dzahabi berkata: Saya tidak mengetahuinya. Imam Abu Dawud mengeluarkan hadistnya. Perawi darinya hanyalah Abu Hasyim al-Wasithy saja dan hadist Ismail mudhtarib/goncang. Beliau menyebut hadist ini gharib munkar.
3.      Ungkapan: ...  dari ‘Ismail bin Rabah dari Ayahnya atau selainnya dari Abi Sa’id al-Khudri bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam ... menunjukkan adaya seorang rawi yang majhul (tidak dikenal)
4.   Imam Nashiruddin al-Albani menyebutkan bahwa sebab kecatatan hadist ini adalah idhtirab sanad (sanadnya goncang). Kadang dari Isma’il dari ayahnya atau selainnya, kadang kala dari Ismail bin Abi Idris dari Abu Sa’id al-Khudri secara mauquf (hanya sampai Shahabat Abu Sa’id al-Khudri saja). Kadang kala juga dari Riyah dari budak Abu Said al-Khudri, dan terkadang juga dari sepupu Abu Sa’id radliallahu ‘anhu.
5.    Jadi hadist ini mudhtarib, idhtirab sanad, sanadnya ada yang majhul sehingga merupakan hadist dlaif/lemah.

Hadist yang Shahih
Adapun doa yang shahih, di antaranya adalah:
صحيح البخاري - (ج 17 / ص 101) حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَعَ مَائِدَتَهُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا
Dari Abi Umamah bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam apabila selesai makan, beliau berkata, alhadulillahi katsiran thayyiban fihi ghair makfi wala muwaddia’in wa la mustaghna ‘anhu rabbana (HR Imam Bukhari (17/101 = 5458), Ahmad (5/252), 256, 261, 267, Abu Dawud (no. 3849), at-Tirmidzi (no. 3456), Ibn Majah (no. 3284))

Wallahu a’lam bish-Shawab.

Tulisan ini banyak menambil manfaat dari Kitab Koreksi hadist-Hadist Dha’if Populer, karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, dan Hadist Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia karya Ahmad sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar