Jumat, 19 Oktober 2012

BILA SHALAT IDUL ADHA JATUH PADA HARI JUMAT

BILA SHALAT IDUL ADHA JATUH PADA HARI JUMAT
Oleh: Sugiyanta S.Ag, M.Pd

Pernahkan Pada Masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam Hari Raya Bertepatan dengan Hari Jumat?
Berikut adalah data astronomis ijtimak awal bulan pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
1.        Idul Fithri 6 H
Berdasarkan ilmu hisab, ijtimak menjelang 1 Syawal 6 Hijriah bertepatan dengan Kamis, 11-02-628 M, pukul 05.32, dan saat matahari terbenam pukul 18.21 tinggi hilal adalah 03o 34’ 44” di atas ufuk. Secara ilmu hisab wujudul hilal maupun imkanurukyat dapat ditetapkan bahwa tanggal 1 Syawal 6 H datang bertepatan dengan Jumat 12-02-628 M

2.        Idul Adha
Ijtimak menjelang 1 Dzul Hijjah 5 H terjadi pada Selasa, 21-04-627, pukul 11.08. Pada saat matahari terbenam pukul 18.50, tinggi hilal 01o 50’ 47” di atas ufuk. Hisab wujudul hilal  menyatakan hari Rabu 22-04-627 H adalah tanggal 1 Dzul Hijjah dan 10 Dzul Hijjah 5 H jatuh pada hari Jumat 1-05-627 H.
Ijtimak menjelang 1 Dzul Hijjah 8 H terjai pada Senin, 19-03-630 M, pukul 11.08. Saat matahari tenggelam, hilal pada ketinggian 03o 57’ 31” di bawah ufuk. Sehinga secara hisab wujudul hilal, Selasa 20-03-630 M masih tanggal 30 Dzul Qa’dah. Tanggal 1 Dzul Hijjah bertepatan dengan Rabu 21-03-630 M dan Idul Adha 10 Dzul Hijjah 8 H bertepatan dengan Jumat 30-03-630 M

Boleh Meninggalkan Shalat Jumat
Berdasarkan
سنن أبي داود - (ج 3 / ص 270)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ: شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ قَالَ أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ
Sunan Abu Dawud (3.270)
Muhammad bin Katsir menceritakan kepada kami, Israil mengabarkan kepada kami, ‘Ustman bin al-Mughirah menceritakan kepada kami, dari Iyas bin Abu Ramlah Asy-Syami, ia berkata, "Saya pernah menyaksikan Muawiyah bin Abu Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, ia berkata, "Apakah anda pernah menyaksikan bersama Rasulullah SAW, dua hari raya bertepatan dalam satu hari? "Jawabnya, "Ya." Muawiyah berkata, "Bagaimanakah beliau melakukannya?" Jawabnya, 'Beliau mengerjakan shalat led, lalu memberi keringanan dalam shalat Jum 'at. " Lalu beliau bersabda, "Barangsiapa yang mau shalat (Jum 'at), maka hendaknya ia mengerjakannya!" (Shahih)
Faedah hadist
1.         Pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, pernah shalat ‘Id bertepatan pada hari Jumat
2.         Rasulullah dan para sahabat mengerjakan shalat ‘Id
3.         Rasulullah memberikan keringanan untuk meninggalkan shalat Jumat

سنن ابن ماجه - (ج 4 / ص 198)
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ رَجُلًا سَأَلَ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ هَلْ شَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ
Sunan ibn Majah (4/198)
Nashr bin ‘Aliy al-Jahdlamiy menceritakan kepada kami, Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami dari ‘Ustman bin al-Mughirah dari Iyas bin Abu Ramlah Asy-Syami, ia berkata, "Aku mendengar seorang laki-laki bertanya kepada Zaid bin Arqam bertanya, 'Apakah kamu pernah menyaksikan bersama Rasulullah SAW dua buah hari raya bertemu dalam satu hari?" Ia menjawab, "Ya," Lalu laki-laki tersebut bertanya, "Lalu bagaimana yang dilakukan Rasulullah?" Ia menjawab, "Beliau shalat hari raya, kemudian pulang, kemudian beliau mengambil rukhshah shalat Jum'at -tidak shalat- kemudian beliau bersabda, "Siapa yang ingin shalat maka shalatlah." Shahih
Faedah hadist:
1.        Pada zaman Rasulullah pernah shalat ‘Id jatuh pada hari Jumat
2.        Rasulullah mengerjakan shalat ‘Id, dan meninggalkan shalat Jumat
3.        Tetapi Rasulullah pun menyatakan barang siapa ingin mengerjakan shalat ‘Id, ia boleh mengerjakannya

سنن ابن ماجه - (ج 4 / ص 199)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنِي مُغِيرَةُ الضَّبِّيُّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Sunan Ibn Majah (4/199)
Muhammad bin al-Mushafa al-Himshi menceritakan kepada kami, Baqiyah menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Mughirah adl-Dlabi menceritakan epadaku, dari Abdul’Aziz bin Rufai’ dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda, "Dua hari raya telah berkumpul di hari kalian ini, maka siapa yang ingin shalat hari raya maka ia telah mencukupi dari shalat jum'at, dan kami semua akan melakukan shalat Jum'at jika Allah mengizinkan." Shahih
Faedah hadist
1.        Pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, pernah terjadi shalat Id bertepatan dengan hari Jumat
2.        Rasulullah menyatakan shalat hari raya telah mencukupi shalat jumat
3.        Kaum Muslimin diberi keringanan untuk meninggakan shalat Jumat
4.        Akan tetapi Rasulullah dan sebagian besar Sahabatnya tetap mengerjakan shalat Jumat

Rasulullah Tetap Mengerjakan Shalat Jumat
سنن ابن ماجه - (ج 4 / ص 199)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنِي مُغِيرَةُ الضَّبِّيُّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Sunan Ibn Majah (4/199)
Muhammad bin al-Mushafa al-Himshi menceritakan kepada kami, Baqiyah menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Mughirah adl-Dlabi menceritakan epadaku, dari Abdul’Aziz bin Rufai’ dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda, "Dua hari raya telah berkumpul di hari kalian ini, maka siapa yang ingin shalat hari raya maka ia telah mencukupi dari shalat jum'at, dan kami semua akan melakukan shalat Jum'at jika Allah mengizinkan." Shahih
Faedah hadist
1.        Pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, pernah terjadi shalat Id bertepatan dengan hari Jumat
2.        Rasulullah menyatakan shalat hari raya telah mencukupi shalat jumat
3.        Kaum Muslimin diberi keringanan untuk meninggakan shalat Jumat
4.        Akan tetapi Rasulullah dan sebagian besar Sahabatnya tetap mengerjakan shalat Jumat

Rasulullah Pernah Meninggalkan Shalat Jumat
Berdasarkan
سنن ابن ماجه - (ج 4 / ص 198)
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ رَجُلًا سَأَلَ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ هَلْ شَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ
Sunan ibn Majah (4/198)
Nashr bin ‘Aliy al-Jahdlamiy menceritakan kepada kami, Abu Ahmad menceritakan kepada kami, Israil menceritakan kepada kami dari ‘Ustman bin al-Mughirah dari Iyas bin Abu Ramlah Asy-Syami, ia berkata, "Aku mendengar seorang laki-laki bertanya kepada Zaid bin Arqam bertanya, 'Apakah kamu pernah menyaksikan bersama Rasulullah SAW dua buah hari raya bertemu dalam satu hari?" Ia menjawab, "Ya," Lalu laki-laki tersebut bertanya, "Lalu bagaimana yang dilakukan Rasulullah?" Ia menjawab, "Beliau shalat hari raya, kemudian pulang, kemudian beliau mengambil rukhshah shalat Jum'at -tidak shalat- kemudian beliau bersabda, "Siapa yang ingin shalat maka shalatlah." Shahih
Faedah hadist:
1.        Pada zaman Rasulullah pernah shalat ‘Id jatuh pada hari Jumat
2.        Rasulullah mengerjakan shalat ‘Id, dan meninggalkan shalat Jumat
3.        Tetapi Rasulullah pun menyatakan barang siapa ingin mengerjakan shalat ‘Id, ia boleh mengerjakannya

Para Sahabat ada yang meninggalkan shalat Jumat dan ini dibenarkan oleh para Sahabat yang lain.
Berdasarkan
سنن أبي داود - (ج 3 / ص 273)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى وَعُمَرُ بْنُ حَفْصٍ الْوَصَّابِيُّ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْمُغِيرَةِ الضَّبِّيِّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ
Sunan Abu Dawud (3/273)
Muhammad bin al-Mushafa dan ‘Umar bin Hafsh al-Washabi al-Ma’na menceriakan kepada kami, Baqiyah menceritakan kepada kami, Su’bah menceritakan kepada kami al-Mughirah al-Dlabay dari ‘Abdul Aziz bin Rufai’ dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda, "Pada harimu ini (Jum 'at), telah berkumpul dua hari raya. Barangsiapa yang ingin, maka shalat di hari rayanya ini sudah mencukupi shalat Jum'atnya. Namun kami akan tetap mengerjakan shalat Jum'at. " {Shahih).
Faedah Hadist:
1.        Pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah shalat Id bertepatan pada hari Jumat
2.        Rasulullah menegaskan bahwa shalat Id sudah mencukupi sebagai shalat Jumat
3.        Akan tetapi Rasulullah tetap menyelenggarakan shalat Jumat

سنن أبي داود - (ج 3 / ص 271)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَرِيفٍ الْبَجَلِيُّ حَدَّثَنَا أَسْبَاطٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ:
صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلَ النَّهَارِ ثُمَّ رُحْنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا فَصَلَّيْنَا وُحْدَانًا وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ أَصَابَ السُّنَّةَ
Sunan Abu Dawud (3/271) – Muhammad bin Tharif al-Bajali menceritakan kepada kami, Asbath menceritakan kepada kami dari al-A’masy dari Atha' bin Abu Rabah, ia berkata, "Ibnu Zubair pernah mengerjakan shalat bersama kami pada hari raya di hari Jum 'at, di awal hari (pagi), kemudian kami pergi shalat Jum'at, namun ia tidak keluar kepada kami, maka kami shalat sendiri-sendiri. Ibnu Abbas waktu itu sedang berada di Tha'if. Setelah datang, kami sampaikan hal itu kepadanya, maka ia berkata, "Dia telah mengerjakan sunnah. " {Shahih)
Faedah hadist
1.         Pada masa Abdullah bin Zubair, pernah shalat Id bertepatan dengan hari Jumat
2.         Ibn Zubair dan kaum Muslimin mengerjakan shalat ‘Id pada pagi hari
3.         Saat tiba waktu shalat Jumat, Ibn Zubair tidak ke luar menuju (mendatangi) masjid untuk menunaikan shalat Jumat
4.         Maka kaum Muslimin shalat sendiri-sendiri di masjid
5.         Hal tersebut ditanyakan kepada Abdullah bin ‘Abbas, dan beliau menyatakan bahwa perbuatan Abdullah bin Zubair sesuai dengan sunnah (apa yang dilakukan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam)

سنن أبي داود - (ج 3 / ص 272)
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ قَالَ عَطَاءٌ: اجْتَمَعَ يَوْمُ جُمُعَةٍ وَيَوْمُ فِطْرٍ عَلَى عَهْدِ ابْنِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ عِيدَانِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَجَمَعَهُمَا جَمِيعًا فَصَلَّاهُمَا رَكْعَتَيْنِ بُكْرَةً لَمْ يَزِدْ عَلَيْهِمَا حَتَّى صَلَّى الْعَصْرَ
Sunan Abu Dawud (3/272)
Yahya bin Khalaf menceritakan kepada kami, Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami, dari Ibn Juraij, ia berkata, Atha, ia berkata, "Pernah bertepatan hari Jum 'at dan hari raya pada masa Ibnu Zubair, lalu ia berkata, 'Dua hari raya terjadi dalam satu hari, maka keduanya dikumpulkan, beliau mengerjakan shalat untuk keduanya dua rakaat di pagi hari, tidak menambah dari dua rakaat, sehingga beliau mengerjakan shalat Ashar.'" {Shahih).
Faedah hadist
1.    Pada masa Abdullah bin Zubair, pernah shalat Id bertepatan dengan hari Jumat
2.    Ibn Zubair dan kaum Muslimin mengerjakan shalat ‘Id pada pagi hari
3.    Sampai shalat ‘Ashar beliau tidak menambah shalatnya (tidak menunaikan shalat Jumat dan mungkin juga tidak menunaikan shalat dzuhur)

مصنف ابن أبي شيبة - (ج 2 / ص 92)
حدثنا أبو أسامة عن هشام بن عروة عن وهب بن كيسان قال اجتمع عيدان في يوم فخرج عبد الله بن الزبير فصلى العيد بعد ما ارتفع النهار ثم دخل فلم يخرج حتى صلى العصر قال هشام فذكرت ذلك لنافع أو ذكر له فقال ذكر ذلك لابن عمر فلم ينكره.
Mushnaf Ibn Abi Syaibah (2/92)
Abu ‘Usamah menceritakan kepada kami dai Hisyam bin ‘Urwah dari Wahb bin Kisan, ia berkata, “Berkumpul dua hari raya dalam satu hari, maka ‘Abdullah bin Zubair keluar lalu shalat ‘Id setelah hari sudah tinggi (agak siang) kemudian masuk, maka ia tidak keluar hingga shalat ‘Ashr. Hisyam berkata, “Maka aku sampaikan hal itu kepada Nafi’ atau ia menyampaikan kepadanya.” Maka Nafi’ menyampaikan hal itu kepada Ibn ‘Umar dan ia tidak mengingkarinya.””
Faedah hadist
1.        Pada Ibn Zubair pernah shalat Id bertepatan pada hari Jumat
2.        Ibn Zubair mengerjakan shalat Id pada pagi hari
3.        Dan Ibn Zubair tidak mengerjakan shalat Jumat
4.        Ibn ‘Umar tidak menyalahkan apa yang dilakukan Ibn Zubair

Shalat Dzuhur Sebagai Pengganti Shalat Jumat
Berdasarkan
مصنف ابن أبي شيبة - (ج 2 / ص 92)
حدثنا هشيم عن منصور عن عطاء قال اجتمع عيدان في عهد ابن الزبير فصلى بهم العيد ثم صلى بهم الجمعة صلاة الظهر أربعا.
Mushnaf Ibn Abi Syaibah (2/92)
Hasyim menceritakan kepada kami dari Manshur dari ‘Atha, ia berkata, “Telah berkumpul dua hari raya pada masa az-Zubair, maka ia shalat dengan mereka Shalat Id, kemudian shalat bersama mereka shalat jumat dengan shalat dzuhur empat rakaat.
Faedah hadist:
1.        Pada Ibn Zubair pernah shalat Id bertepatan pada hari Jumat
2.        Ibn Zubair mengerjakan shalat Id pada pagi hari
3.        Dan Ibn Zubair tidak mengerjakan shalat Jumat tetapi mengerjakan shalat dzuhur

Selasa, 16 Oktober 2012

Tempat Berjalan Wanita Bila Sedang di Jalan

Tempat Berjalan Wanita Bila Sedang di Jalan
Oleh: Sugiyanta, S.Ag, M.Pd

Bapak Marto Mardal Sedang Mencangkul di Sawah
Paras Banjarasri Kalibawang Kulon Progo

Di Indonesia berlaku ketentuan bahwa orang yang lalu lang di jalan raya, baik berjalan kaki, maupun berkendaraan harus menempati sisi sebelah kiri. Di beberapa negara lain berlaku ketentuan bahwa bila melewati jalan raya harus menempati sisi kanan jalanraya.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas di sisi mana jalan apabila kita melewati jalan raya. Tulisan ini hanya membahas bagaimana seharusnya wanita mengambil tempat bila berjalan di jalan raya (jalanan). Misalkan, sepasang suami istri berjalan bersama di jalan. Pertanyaannya apakah wanita berjalan di sebelah kanan atau sebelah kiri, apakah wanita berjalan di sisi tengah jalan atau di sisi luar jalan (pinggiran). Lalu bagaimana dengan laki-laki?
Marilah kita perhatikan hadist berikut:
المعجم الأوسط للطبراني - (ج 7 / ص 94)
حدثنا إسحاق بن حاجب المروزي قال: نا محمد بن إسحاق المسيبي قال: نا أبي، عن ابن أبي ذئب، عن ابن شهاب، عن الحارث بن الحكم، عن أبي عمرو بن حماس، وكانت له صحبة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «ليس للنساء سرأة الطريق»
Al-Mu’jam al-Ausath lith-Thabrani (7/94)
Ishaq bin Hajib al-Marwazi menceritakan kepada kami, ia berkata, “Muhammad bin Ishaq al-Musayibi menceritakan kepada kami, ia berkata, “Ayahku menceritakan kepada kami, dari Ibn Abi Dza’b, dari Ibn Syihab, dari al-Harits bin al-Hakim, dari Abi Amr bin Himas, dan ia memiliki sahabat, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Bagian Tengah Jalan bukan untuk kaum wanita.”””
Menurut hadist ini wanita hendaknya menempati bagian luar sisi jalan, sehingga sisi dalam untuk laki-laki. Apalagi bila dijalanan banyak kaum wanita dan kaum pria, dua hadist berikut mempertegas di mana wanita mengambil bagian jalan.
سنن أبي داود - (ج 14 / ص 16)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي الْيَمَانِ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَبِي عَمْرِو بْنِ حِمَاسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حَمْزَةَ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنْ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ فَكَانَتْ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ
Sunan Abu Dawud (14/16) – ‘Abdullah bin Maslamah menceritakan kepada kami, ‘Abdul ‘Aziz yaitu Ibn Muhammad menceritakan kepada kami, dari Abi al-Yaman dari Syaddad bin Abi ‘Amr bin Himas dari ayahnya dari Hamzah bin Abi Usaid al-Anshari dari ayahnya, bahwa ia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berkata dan beliau keluar dari masjid maka bercampur baur para laki-laki dan para wanita di jalan, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berkata kepada para wanita, “Minggirlah, karena kalian tidak boleh menempati tengah jalan, bagi kalian bagian pinggir jalan.” Maka dahulu para wanita menempel tembok hingga pakaiannya seperti tergantung di tembok seperti menempel dengannya.””
المعجم الأوسط للطبراني-(ج 9 / ص 249)
حدثنا علي بن سعيد الرازي قال: نا عبد العزيز بن يحيى المدني قال: نا محمد بن طلحة التيمي، عن شريك بن أبي نمر، عن عبيد بن عمير، عن علي بن أبي طالب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ليس للنساء نصيب في سراة الطريق، فليلتمسن حافتها، ولا يحققنها»
Al-Mu’jam al-Ausath lith-Thabrani (9/249)
Ali bin Sa’id ar-Razi menceritakan kepada kami, ia berkata, “’Abdul ‘Aziz bin Yahya al-Madani menceritakan kepada kami, ia berkata, “Muhammad bin Thalhah atTaimi menceritakan kepada kami, dari Syarik bin Abi Namr, dari ‘Ubaid bin ‘Amir, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Bukan untuk wanita lewat di tengah jalan, maka tempatilah tepiannya, dan jangan melewati tengahnya.”

Kesimpulan:
Bila seorang suami istri berjalan bersama di jalan, maka laki-laki berjalan di bagian tengah jalan, dan wanita berjalan sisi luat jalan.

Senin, 15 Oktober 2012

KESALAHAN-KESALAHAN SEPUTAR PENYEMBELIHAN HEWAN KORBAN


 
KESALAHAN-KESALAHAN SEPUTAR PENYEMBELIHAN HEWAN KORBAN
Oleh: Sugiyanta S.Ag, M.Pd

1.        Meninggalkan/Tidak berkorban pada hal mampu
Para ulama telah bersepakat dalam disyariatkannya kurban, tetapi mereka berbeda pendapat dalam hukum bagi orang yang sanggup berkurban. Dalam hal ini ada dua pendapat:
a.      Berkorban adalah wajib dan berdosa bila meninggalkannya.
Sebagian besar pengikut madzhab Imam Abu Haniah berpendapat yang demikian. Dan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah lebih condong kepada pendapat ini.
b.      Berkorban adalah sunnah muakkadah
Sebagian besar pengikut madzhab Imam asy-Syafi’i lebih memilih kepada bahwa berkorban bagi yang mampu berkorban adalah sunnah muakkadah. Demikan juga sebagian besar pengikut madzhab Imam Malik.
Bagi orang yang mampu berkorban sangat tidak disukai bila ia meninggalkan penyembelihan hewan korban, karena:
a.      Allah berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ .فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [الكوثر/1، 2]
Sesungguhnya telah Kami limpahkan kepada nikmat yang banyak. Maka shalatlah dan berkorbanlah karena Tuhanmu.
b.      Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam selalu berkorban selama sepuluh tahun beliau di kota Madinah, hingga belia wafat
c.       Berkorban adalah salah satu bentuk syi’ar Islam
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [الحج/32]
Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syiar syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati
d.      Adanya hadist berikut
السنن الكبرى للبيهقي - (ج 9 / ص 260(
(أخبرنا) أبو عبد الله الحافظ أنبأ الحسن بن يعقوب العدل ثنا يحيى بن أبى طالب ثنا زيد بن الحباب عن عبد الله بن عياش المصرى عن عبد الرحمن الاعرج عن أبى هريرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من وجد سعة لان يضحى فلم يضح فلا يحضر مصلانا
As-Sunnan al-Kubra lil-Baihaqi (9/260) – Abu ‘Abdullah al-hafidl Anba’ al-Hasan bin Ya’qub al-‘Adl mengabarkan kepada kami, Yahya bin Abi Thalib menceritakan kepada kami, Zaid bin al-Habab menceritakan kepada kami dari ‘Abdullah bin ‘Iyasy al-Mishri dari ‘Abdurrahman al-A’raj dari Abi Hurairah radliallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa memiliki kemampuan untuk berkorban, tetapi tidak berkorban, maka janganlah mendatangi tempat shalat kami.””
(Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Hakim (4/233), Ibn Majah hadist no. 3123)

2.        Orang yang hendak berkorban (mencukur, mencabut, atau menggunting) rambut dan kukunya sendiri
Padahal tersebut dilarang oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Seperti tersebut dalam hadist berikut:
صحيح مسلم - (ج 10 / ص 172) و حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو اللَّيْثِيُّ عَنْ عُمَرَ بْنِ مُسْلِمِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ أُكَيْمَةَ اللَّيْثِيِّ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلَالُ ذِي الْحِجَّةِ فَلَا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ
Shahih Muslim (10/172): Dan ‘Ubaidullah bin Mu’adz al-‘Anbariy menceritakan kepadaku, Muhammad ‘Amr dan al-Laist menceritakan kepada kami dari ‘Umar bin Muslim bin ‘Ammar bin Ukaimah al-Laits, ia berkata: “Aku mendengar Sa’id bin al-Musayyib, ia berkata: “Aku mendengar Ummu Salamah, istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa memiliki binatang sembelihan (kurban) dan akan menyembelihnya (berkorban) maka bila terbit (terlihat hilal) hilal Dzulhijjah, maka janganlah memotong sesuatu dari rambutnya dan kukunya sampai ia selesai berkorban.”
Saat menerangkan hadist di atas Imam an-Nawawi rahimahullah dalah Syarah Muslim menyampaikan, “... dan maksud larangan untuk mengambil kuku dan rambut adalah larangan memotong kuku dengan gunting kuku dan sejenisnya. Adapun larangan mengambil rambut adalah baik dengan cara menggundul, memendekkan, mencabut, membakar, menggunakan bahan perontok rambut ataupun yang lainnya. Sama saja, baik itu rambut ketiak, kumis, rambut kemaluan, rambut kepala maupun rambut lainnya yang ada di badannya.”

3.        Menghiasi hewan korban dengan bunga-bunga
Diakui atau tidak, entah ini dilakukan sebagai keyakinan maupun hanya sebagai bahan bercanda, sebagian orang melakukannya. Hal ini merupakan kesalahan disebabkan dua sebab:
a.      Perbuatan ini tidak bersumber dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat radlilallahu ‘anhum
b.      Perbuatan ini menyerupai orang-orang ‘ajm (selain orang Arab, karena kebiasaan mereka, umumnya bertentangan dengan Islam) dalam hari raya mereka, dimana mereka menghiasi hewan yang akan disembelih. Seperti warga Hindu di India dan Bali.

4.        Berkorban dengan hewan yang cacat
Hewan korban haruslah bebas dari cacat, karena hewan korban dipersembahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya hewan korban yang dipersmbahkan harus sebanding dengan derajat takwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ [الحج/37]
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Ada juga yang berkorban tetapi tidak berusaha untuk mencari hewan korban yang sehat dan baik. Barangkali hewan cacat dipilih karena harga yang murah. Akan tetapi Rasulullah telah memberikan rambu-rambu empat macam binatang yang cacat, yang tidak boleh untuk berkorban.
سنن أبي داود - (ج 7 / ص 467) حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ النَّمَرِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ فَيْرُوزَ قَالَ: سَأَلْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ مَا لَا يَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصَابِعِي أَقْصَرُ مِنْ أَصَابِعِهِ وَأَنَامِلِي أَقْصَرُ مِنْ أَنَامِلِهِ فَقَالَ أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى
Sunan Abi Dawud (7/467): ... dari Abdirrahman, dari ‘Ubaid bin Fairuz, ia berkata: “Aku tanyakan kepada al-Barra' bin ‘Azib: “Apa saja (oleh Rasulullah) dalam penyembelihan hewan korban. Al-Barra' berkata, "Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam berdiri ... kemudian beliau bersabda: Empat hal yang tidak boleh, hewan yang buta sebelah matanya, yang jelas kebutaannya, hewan sakit yang nyata sakitnya, hewan pincang yang nyata kepincangannya, hewan kurus yang tidak berdaging (lihat juga HR Nasai no. 4293, HR Tirmidzi no. 1417, HR Ibn Majah no. 3135)

5.        Berkurban dengan hewan yang masih kecil
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah menerangkan kepada kita usia hewan korban yang diperbolehkan.
صحيح مسلم - (ج 10 / ص 142) حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ
Shahih Muslim (10/142) ... dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Janganlah kalian menyembelih korban kecuali berupa musinnah. Namun apabila kalian kesulitan mendapatkannya maka sembelihlah domba yang jadza'ah.
Definisi: Musinnah adalah hewan yang telah mengalami tsaniyah (lepasnya dua gigi geraham atau sering disebut poel dalam bahasa Jawa) yaitu:
Unta minimal       : usia 5 tahun
Sapi minimal        : usia 2 tahun
Kambing minimal            : usia 1 tahun
Tetapi apabila kesulitan untuk mendapatkan yang musinnah kita boleh berkorban dengan binatang yang umurnya kurang dari itu yaitu minimal setengah tahun untuk kambing (disebut jadza'ah) (Lihat Syaikh al-Ustaimin Tatacara Qurban Tuntunan Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam (Talkhis Kitab Ahkam al-Adlhiyah al-Dzakah), Media Hidayah, Yogyakarta, 2003.hal. 26-27)
صحيح البخاري - (ج 4 / ص 27)
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا زُبَيْدٌ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ نَحَرَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسْكِ فِي شَيْءٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَبَحْتُ وَعِنْدِي جَذَعَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُسِنَّةٍ فَقَالَ اجْعَلْهُ مَكَانَهُ وَلَنْ تُوفِيَ أَوْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ
Shahih al-Bukhari (4/27) – Adam bercerita kepada kami, ia berkata, “Syu’bah bercerita kepada kami, ia berkata, “Zubaid bercerita kepadakami, ia berkata, “Aku mendengar asy-Sya’biy dari al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, "Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini adalah mengerjakan shalat kemudian pulang dan menyembelih binatang kurban, barangsiapa melakukan hal itu, maka dia telah bertindak sesuai dengan sunnah kita, dan barangsiapa menyembelih biantang kurban sebelum shalat, maka sesembelihannya itu hanya berupa daging yang ia berikan kepada keluarganya, tidak ada hubungannya dengan ibadah kurban sedikitpun." Lalu Abu Burdah bin Niyar berkata; "Wahai Rasulullah, saya telah menyembelih (sebelum shalat) dan aku masih memiliki jad'ah (kambing setengah umur) yang lebih baik daripada binatang musinah (dua giginya sudah tanggal)”, maka beliau bersabda: "Jadikanlah ia (sebagai) penggantinya, dan itu belum mencukupi” atau “namun hal itu tidak untuk orang lain setelahmu.

6.        Tidak menenangkan hewan korban saat (akan) menyembelihnya
Di antara adab menyembelih adalah menenangkan hewan sembelihannya yaitu dengan cara
a.      tidak menajamkan pisau sembelihan di depan hewan korban
المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 17 / ص 422)
حدثنا محمد بن صالح بن هانئ، ثنا يحيى بن محمد بن يحيى الشهيد، رحمه الله، ثنا عبد الرحمن بن المبارك العائشي، ثنا حماد بن زيد، عن عاصم، عن عكرمة، عن عبد الله بن عباس، رضي الله عنهما أن رجلا أضجع شاة يريد أن يذبحها وهو يحد شفرته، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: «أتريد أن تميتها موتات هلا حددت شفرتك قبل أن تضجعها» «هذا حديث صحيح على شرط البخاري ولم يخرجاه»
Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain lil-Hakim (17/422)
Muhammad bin Shalih bin Hani’ bercerita kepada kami, Yahya bin Muhammad bin Yahya asy-Syahid rahimahullah bercerita kepada kami, ‘Abdurrahman bin al-Mubarak al-‘Aisyiy bercerita kepada kami, Hammad bin Zaid bercerita kepada kami, dari ‘Ashim, dari ‘Ikrimah, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa ada seseorang yang sudah merebahkan kambing yang akan disembelih, semetera ia sedang menajamkan pisaunya. Melihat hal itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam berkata, “Apakah engkau ingin membuatnya mati berkali-kali? Mengapa engkau tidak menajamkan pisaumu itu sebelum engkau merebahkannya?
Al-Hakim berkata, “Hadist ini shahih menurut jalan al-Bukhari tetapi ia tidak meriwayatkannya.”
Hadist di atas mengandung makna lain yaitu:
b.      tidak menyembelih hewan di depan hewan lainnya
c.       lemah lembut terhadap hewan sembelihan

7.        Perempuan Tidak Boleh Menyembelih
Sebagian kaum muslimin di antara laki-laki maupun perempuan menyangka dan meyakini bahwa perempuan tak boleh menyembelih. Perempuan sebenarnya dibolehkan menyembelih, sebagaimana laki-laki. Pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pun, kaum perempuan sudah terbiasa menyembelih seperti digambarkan dengan hadist berikut.
صحيح البخاري - (ج 17 / ص 174)
حَدَّثَنَا صَدَقَةُ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ امْرَأَةً ذَبَحَتْ شَاةً بِحَجَرٍ فَسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ فَأَمَرَ بِأَكْلِهَا
 وَقَالَ اللَّيْثُ حَدَّثَنَا نَافِعٌ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ يُخْبِرُ عَبْدَ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ جَارِيَةً لِكَعْبٍ بِهَذَا
Shahih al-Bukhari (17/174) – Menceritakan kepada kami Shadaqah berkata, telah mengabarkan kepada kami Abdah dari Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Ka'b bin Malik dari Bapaknya, bahwa ada seorang wanita menyembelih seekor kambing dengan batu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu ditanya tentang itu, maka beliau memerintahkan untuk tetap memakannya."
Al-Laits berkata, “Telah menceritakan kepada kami Nafi' Bahwasanya ia mendengar seorang laki-laki Anshar mengabarkan kepada Abdullah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa budak wanita Ka'b -menyebutkan Hadits seperti ini-."

8.        Memberi upah tukang jagal/tukang potongnya dengan daging hewan korban
Dalam suatu kepanitian kadang ada yang memberikan upah (walau sekedarnya) kepada yang hadir membantu penyembelihan hewan korban dengan daging korban. Ada juga kaum muslimin memberikan upah tukang menyembelihnya dengan kepala atau kulitnya. Hal ini dilarang oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
صحيح مسلم - (ج 6 / ص 470)
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَلِيٍّ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا
Shahih Muslim (6/470) – Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Khaitsamah mengabarkan kepada kami dari Abdil Karim dari Mujahid dari ‘Abdurrahman bin Abi Laila dari ‘Ali, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan kepadaku untuk mengurus unta (untuk kurban) dan agar aku menyedekahkan daging, kulit, dan kain penutupnya. Juga agar aku tidak memberi upah untuk tukang potong dari hal itu semua, beliau bersabda: Kami memberinya dari harta kami.”

9.        Menjual kulit hewan korbannya
Hadist dari Ali di atas berhubungan dengan saat Rasulullah naik haji wada’, dan beliau menyembelih seratus ekor unta. Beliau berusaha menyembelihnya sendiri, tetapi setelah penyembelih yang keenam puluh, Rasulullah minta Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu untuk meneruskan penyembelihan unta yang tersisa.
 Dari hadits tersebut bahwa yang berkorban dilarang menjual daging, kain penutup (biasanya kain penutup pada unta, termasuk tali ikatnya), juga kulitnya. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 8 / ص 118)
وعن عبد الله بن عياش المصري، عن عبد الرحمن الأعرج، عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من باع جلد أضحيته فلا أضحية له»
Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain lil-Hakim (8/118)
Dan dari Abdullah bin ‘Iyash al-Mishri, dari ‘Adirrahman al-A’raj, dari Abi Hurairah radliallahu ‘anh, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa menjual kulit hewan korban, maka tidak ada (pahala) korban baginya.”