Kamis, 27 Juni 2013

Ayo kita sambut Ramadhan 1434 H



Menyambut Ramadhan

Oleh: Sugiyanta, S.Ag, M.Pd



Apa yang kita lakukan dalam bulan Sya’ban
1.     Bersungguh-sungguh dalam menentukan awal bulan Sya’ban
Salah satu yang harus dilakukan umat Islam dalam menyambut Ramadhan adalah bersungguh-sungguh menentukan awal bulan Ramadhan. Hal ini harus dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten yaitu orang-orang yang ahli - meliputi para ahli ru’uatul hilal dan juga para ahli hisab demikian juga.
Ini mengacu kepada hadist berikut:
سنن الترمذي - (ج 3 / ص 111)
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ حَجَّاجٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَحْصُوا هِلَالَ شَعْبَانَ لِرَمَضَانَ
Sunan at-Tirmidzi (3/111) – Muslim bin Hajjaj menceritakan kepada kami, Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Muhammad bin ‘Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, “Hitung-hitunglah hilal bulan Sya'ban untuk (menetapkan) Ramadhan'." (Imam al-Abani menyatakan hadist ini Hasan)
Bersungguh-sungguh menentukan awal Ramadhan berguna untuk mempermudah menetapkan awal Ramadhan. Tanggal 29 Sya’ban adalah hari untuk melihat hilal Ramadhan. Artinya bila saat itu hilal baru sudah nampak maka hari berikutnya sudah memasuki tanggal 1 Ramadhan, namun bila hilal belum nampak berarti hari berikutnya masih tanggal 30 Sya’ban.
Hal ini tergambar pada hadist berikut:
سنن أبي داود - (ج 6 / ص 262)
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ
Sunan Abu Dawud (6/262)
Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ‘Abdurrahman bin Mahdiy menceritakan kepadaku, Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku dari ‘Abdullah bin Abi Qais, ia berkata, “Aku mendengar ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata, “Dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sangat memperhatikan bulan Sya'ban dan tidak memperhatikan bulan yang lain. Beliau berpuasa dengan melihat hilal, namun bila terhalang mendung beliau menyempurnakan bilangan Sya'ban sampai tiga puluh hari, kemudian baru berpuasa (Ramadhan) (Imam al-Albani menyatakan bahwa hadist ini shahih).

2.     Mengganti Puasa Ramadhan yang tidak dilaksanan pada Ramadhan sebelumnya
Setidaknya kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengganti puasa Ramadhan yang kita tidak lakukan pada Ramadhan sebelumnya. Ini mengikti apa yang diperbuat oleh istri Rasulullah yaitu ‘Aisyah radlallahu ‘anha.
سنن أبي داود - (ج 6 / ص 363)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ: إِنْ كَانَ لَيَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ حَتَّى يَأْتِيَ شَعْبَانُ
Sunan Abi Dawud (6/363)
‘Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabiy menceritakan kepada kami dari Malik dari Yahya bin Sa’id dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa ia mendengar ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata, "Jika aku mempunyai tanggungan (utang) puasa bulan Ramadhan dan aku tidak mampu membayarnya, maka aku membayamya saat bulan Sya'ban tiba."

3.     Tidak mengerjakan puasa pemanasan atau puasa pendahuluan
Tidak boleh mendahulu puasa Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelum puasa Ramadhan.
صحيح مسلم - (ج 5 / ص 358)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُبَارَكٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
Shahih Muslim (5/358)
Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Abu Bakr berkata, “Waki’ menceritakan kepada kami dari ‘Aliy bin Mubarak dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Saamah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali seseorang yang terbiasa berpuasa maka biarlah ia berpuasa.”””
Dalam kasus Ramadhan 1434 H, mungkin ada orang yang terbiasa puasa sunah Senin atau bertepatan dengan puasa Dawud, maka yang demikian tak mengapa ia berpuasa.

4.     Tidak berpuasa pada hari yang diragukan
Maksud hari yang diragukan adalah hari yang diragukan apakah hari itu sudah masuk bulan Ramadhan ataukah masih 30 Sya’ban. Wajib kita memulai puasa Ramadhan pada hari yang kita yakini bahwa hari sudah memasuki Ramadhan.
سنن أبي داود - (ج 6 / ص 273)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ صِلَةَ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ عَمَّارٍ فِي الْيَوْمِ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَأَتَى بِشَاةٍ فَتَنَحَّى بَعْضُ الْقَوْمِ فَقَالَ عَمَّارٌ مَنْ صَامَ هَذَا الْيَوْمَ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sunan Abu Dawud (6/273)
Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair menceritakan kepada kami, Abu Khalid al-Ahmar menceritakan kepada kami dari ‘Amru bin ‘Amru bin Qais dari Ishaq dari Shilah, ia berkata, “Kami bersama ‘Ammar pada hari yang diragukan di dalamnya, lalu disuguhkan daging kambing, maka sebagian orang menolak. Lalu ‘Ammar berkata, “Barangsiapa berpuasa pada hari ini sungguh dia telah durhaka kepada Abu al-Qasim shalallahu ‘alaihi wa salam.

Teks hadist dari CD Program Maktabah Syamilah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar